Paringin (Kemenag Balangan) – Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Balangan Harmainor, S.Pd.I, MM menutup secara resmi kegiatan Pelatihan Pencegahan Radikalisme dan Aliran Sempalan yang diselenggarakan Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kabupaten Balangan di Aula Gedung PLHUT Kemenag Balangan, Kamis (27/11/2025).
Dalam penutupan kegiatan, Harmainor menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan yang dinilainya sangat penting bagi para penyuluh sebagai garda terdepan pembinaan umat. Ia menegaskan urgensi penguatan literasi keagamaan yang moderat dan kemampuan deteksi dini terhadap indikasi radikalisme di masyarakat.
“Kegiatan seperti ini bukan hanya penting, tapi wajib kita lakukan secara berkelanjutan. Penyuluh berada di garis paling depan dalam menjaga ruang keagamaan agar tetap damai dan bebas dari pengaruh paham-paham yang berpotensi memecah masyarakat,” ujarnya.
Harmainor berharap seluruh peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Ia menegaskan bahwa kualitas penyuluh sangat menentukan ketahanan masyarakat terhadap ideologi yang bertentangan dengan nilai agama dan negara.
“Kita ingin Balangan tetap aman. Selama ini tidak pernah ada gesekan yang berarti, dan itu karena penyuluh hadir dengan pendekatan yang lembut dan persuasif. Mari kita jaga bersama kondisi ini dengan menjaga kewaspadaan dan memperkuat pemahaman masyarakat,” katanya.
Harmainor juga mendorong FKPAI untuk terus mengadakan kegiatan serupa di tahun berikutnya karena manfaatnya sangat besar bagi masyarakat.
“InsyaAllah tahun 2026 kegiatan pencegahan seperti ini akan terus kita lanjutkan. Ini bekal bagi penyuluh dalam menghadapi dinamika di lapangan,” tambahnya.
Sementara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Balangan, KH. Ahmad Yusuf selaku narasumber utama dalam pemaparannya mengurai berbagai aspek radikalisme mulai dari sejarah kemunculannya, pola pikir ekstrem yang sering muncul dari tafsir keagamaan yang tidak utuh, hingga cara-cara penyebaran paham sempalan yang memanfaatkan celah literasi masyarakat.
"Radikalisme tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan fisik, tetapi sering diawali dari pola pemahaman yang kaku dan tidak kontekstual," ujarnya.
Ahmad Yusuf juga mengingatkan bahwa penyuluh harus peka terhadap tanda-tanda awal, terutama pada lingkungan yang rentan terhadap infiltrasi ideologi ekstrem.
“Radikalisme biasanya berakar dari pemahaman yang sempit. Ketika ajaran agama ditafsirkan tanpa mempertimbangkan konteks sosial dan nilai kebangsaan, maka potensi penyimpangannya semakin besar. Di sinilah peran penyuluh untuk hadir memberikan penjelasan yang benar dan menenangkan,” pungkasnya.
Penulis: Uswah
Foto: Uswah

0 Comments